Tuntunan Rasulullah dalam Buang Hajat

Jika hendak masuk kamar kecil, maka beliau mengucapkan,

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kotoran dan segala hal yang kotor.” (Diriwayatkan Al-Bukhary dan Muslim).

Jika keluar dari kamar kecil, beliau mengucapkan,

“Ampunan-Mu (yang kuharapkan).”

Terkadang beliau membersihkan kotoran dengan air dan terkadang dengan batu, dan terkadang dengan keduanya. Jika hendak buang hajat ketika dalam perjalanan, maka beliau pergi menyingkir dari para shahabat. Beliau buang hajat dan bertabir di tempat yang berlindung, terkadang bertabir dengan pelepah korma dan terkadang dengan dedaunan. Biasanya beliau mencari tanah yang gembur saat kencing, dan beliau lebih banyak kencing dengan duduk (jongkok). Sampai-sampai Aisyah berkata, “Siapa yang menyampaikan hadits kepada kalian bahwa beliau kencing dengan berdiri, maka janganlah kalian mempercayainya. Beliau tidak pernah kencing kecuali dengan berjongkok.” (Ditakhrij At-Tirmidzy, An-Nasa’y dan Ibnu Majah dengan isnad shahih).

Tapi Muslim meriwayatkan di dalam Shahih-nya, dari hadits Hudzaifah, bahwa beliau pernah kencing dengan berdiri. Ada yang berpendapat, kencing dengan cara berdiri ini dimaksudkan sebagai pembolehan. Ada yang berpendapat, beliau melakukannya karena khawatir tali kekang hewannya lepas. Ada yang berpendapat, hal itu dilakukan karena untuk proses penyembuhan sakit. Orang Arab biasa menyembuhkan kesulitan kencing dengan cara berdiri. Begitulah kata Asy-Syafi’y. Yang benar, beliau melakukannya karena untuk menghindari cipratan air kencing yang kemungkinan akan mengenai diri beliau, sekiranya beliau melakukannya dengan cara berjongkok. Maka satu-satunya cara untuk menghindarinya ialah kencing dengan berdiri.

Beliau pernah keluar dari kamar kecil, seraya membaca Al-Qur’an. Beliau membersihkan kotoran, dengan air maupun batu dengan tangan kirinya. Beliau cukup membersihkannya tiga kali dan tidak pernah merasa was-was.

Sumber: Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Penerjemah: Kathur Suhardi. 2000. Mukhtashar Zadul-Ma’ad (Edisi Indonesia: Zaadul-Ma’ad Bekal Perjalanan Ke Akhirat). Jakarta: Pustaka Azzam. Halaman 12-13.