Tuntunan Rasulullah Saat Berkata, Diam, Tersenyum dan Menangis

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah makhluk Allah yang paling fasih, paling merdu kata-katanya, paling lembut tutur katanya, sampai-sampai perkataan beliau dapat mempengaruhi hati sekian banyak manusia dan menawan jiwa. Bahkan musuh-musuh beliau juga mengakui hal ini. Jika berkata, maka perkataan beliau terinci dan jelas, terkadang diulang-ulang, tidak terlalu cepat dan tidak pula terlalu lambat, tidak terputus-putus atau tersela dengan diam. Terkadang beliau mengulang hingga tiga kali, agar perkataan beliau benar-benar bisa dipahami. Beliau lebih banyak diam jika memang tidak dibutuhkan untuk bicara. Mengawali dan mengakhiri perkataan dengan ujung bibirnya, berkata dengan menggunakan kata-kata yang banyak kandungan maknanya, tidak terlalu banyak (nyerocos) dan tidak pula terlalu sedikit, tidak membicarakan sesuatu yang tidak diperlukan, tidak berkata kecuali yang diharapkan pahalanya. Jika beliau tidak menyukai sesuatu, maka hal itu dapat diketahui lewat rona muka beliau. Tawa beliau berupa senyuman, bahkan semuanya berupa senyuman. Puncak senyuman beliau ialah gigi geraham beliau kelihatan. Beliau tersenyum karena memang ada sesuatu yang membuat beliau tersenyum, yaitu hal-hal yang membuat beliau taajub atau hal-hal yang jarang terjadi atau aneh. Beliau juga tersenyum karena gembira, karena melihat sesuatu yang menggembirakan atau ikut dalam kegembiraan itu. Tapi adakalanya beliau tersenyum justru pada saat yang seharusnya beliau marah. Beliau tersenyum karena dapat menguasai rasa amarah.

Sedangkan tangis beliau juga tidak berbeda jauh dengan senyum beliau, tidak dengan sedu sedan, ratapan dan suara, sebagaimana tawa beliau yang tidak disertai suara mengakak, tapi hanya berupa senyuman. Saat menangis air mata beliau mengalir hingga bercucuran dan dari dada terdengar suara menggelegak. Tangis beliau terkadang karena gambaran kasih sayang kepada orang yang meninggal dunia, terkadang karena rasa takut atas umatnya dan rasa sayang, terkadang karena takut kepada Allah, terkadang saat mendengar Al-Qur’an, yaitu merupakan tangis cinta dan pengagungan, yang disertai rasa takut dan khawatir. Ketika putra beliau, Ibrahim meninggal dunia, maka kedua mata beliau menangis dan mengucurkan air mata, sebagai luapan rasa kasih sayang kepadanya. Beliau bersabda saat itu,

mata_sedih

Mata berlinang air mata, hati bisa bersedih, namun kami tidak mengatakan kecuali yang membuat Rabb kami ridha. Sesungguhnya kami benar-benar bersedih atas kematianmu wahai Ibrahim.” (Ditakhrij Al-Bukhary dan Ahmad).

Beliau menangis saat menyaksikan salah seorang putrinya, saat Ibnu Mas’ud membacakan surat An-Nisa’ di hadapan beliau hingga ayat 41, menangis saat Utsman bin Mazh’un meninggal dunia, menangis saatada gerhana matahari, menangis saat shalat gerhana, menangis saat shalat, menangis saat duduk di dekat kuburan salah seorang putri beliau. Secara keseluruhan, tangis beliau itu menggambarkan beberapa keadaan, yaitu tangis kasih sayang, takut dan khawatir, cinta dan rindu, senang dan gembira, sedih karena menggambarkan siksaan, kesedihan, merasa lemah dan tak berdaya.

Sumber: Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Penerjemah: Kathur Suhardi. 2000. Mukhtashar Zadul-Ma’ad (Edisi Indonesia: Zaadul-Ma’ad Bekal Perjalanan Ke Akhirat). Jakarta: Pustaka Azzam. Halaman 14-15.

Advertisements

Tuntunan Rasulullah dalam Fitrah dan Segala Keragamannya

Ada perbedaan pendapat, apakah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sudah dalam keadaan dikhitan semenjak lahir, ataukah dikhitan malaikat pada saat dada beliau dibelah, ataukah kakeknya, Abdul-Muththalib yang mengkhitan.

Beliau suka mendahulukan yang kanan ketika mengenakan sandal, ketika memulai jalan, bersuci, mengambil dan memberi. Tangan kanan beliau digunakan untuk makan, minum dan bersuci, sedangkan tangan kiri digunakan untuk membersihkan kotoran ketika di kamar kecil umpamanya.

Tuntunan beliau dalam bercukur, maka semua bagian rambut dicukur secara merata atau semua tidak dicukur sama sekali. Beliau tidak pernah mencukur sebagian tanpa sebagian yang lain. Tidak pernah diriwayatkan tentang bercukur ini kecuali saat menunaikan haji.

Beliau suka bersiwak dan melakukannya, baik ketika berpuasa maupun tidak berpuasa. Beliau bersiwak setiap kali bangun dari tidur, ketika hendak wudhu’, ketika hendak shalat, ketika hendak masuk rumah, dengan dahan dari pohon arak. Beliau sering memakai minyak wangi dan menyukainya.

Beliau mempunyai alat celak yang beliau gunakan ketika hendak tidur, dan kedua mata dicelaki. Para shahabat berbeda pendapat, apakah beliau pernah mengecat rambut ataukah tidak? Menurut Anas, beliau tidak pernah mengecat rambut. Menurut Abu Hurairah, beliau pernah mengecat rambut. Ada segolongan orang berpendapat, beliau sering memakai minyak wangi, sehingga membuat rambut beliau kemerah-merahan, hingga menimbulkan anggapan bahwa beliau mengecat rambutnya, padahal beliau tidak mengecatnya. Abu Rimtsah berkata, ”Aku pernah melihat uban beliau kemerah-merahan. Menurut At-Tirmidzy, apa yang dikatakan Abu Rimtsah ini merupakan penafsiran yang paling baik. Sebab beberapa riwayat yang shahih menyebutkan bahwa beliau tidak memiliki uban kecuali beberapa lembar rambut di tempat belahan rambut. Yang pasti, beliau banyak meminyaki rambutnya.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa beliau biasa memangkas kumis. Diriwayatkan pula bahwa Ibrahim Alaihis-Salam juga biasa memangkas kumis. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

jenggot

Pungkaslah kumis dan peliharalah jenggot. Berbedalah kalian dengan orang-orang Majusi.”  (Diriwayatkan Muslim).

Dari Anas, dia berkata, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam membatasi waktu memangkas kumis dan memotong kuku, agar kami tidak memeliharanya lebih dari empat puluh hari.” (Diriwayatkan Muslim)

Sumber: Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Penerjemah: Kathur Suhardi. 2000. Mukhtashar Zadul-Ma’ad (Edisi Indonesia: Zaadul-Ma’ad Bekal Perjalanan Ke Akhirat). Jakarta: Pustaka Azzam. Halaman 13-14.

Tuntunan Rasulullah dalam Buang Hajat

Jika hendak masuk kamar kecil, maka beliau mengucapkan,

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kotoran dan segala hal yang kotor.” (Diriwayatkan Al-Bukhary dan Muslim).

Jika keluar dari kamar kecil, beliau mengucapkan,

“Ampunan-Mu (yang kuharapkan).”

Terkadang beliau membersihkan kotoran dengan air dan terkadang dengan batu, dan terkadang dengan keduanya. Jika hendak buang hajat ketika dalam perjalanan, maka beliau pergi menyingkir dari para shahabat. Beliau buang hajat dan bertabir di tempat yang berlindung, terkadang bertabir dengan pelepah korma dan terkadang dengan dedaunan. Biasanya beliau mencari tanah yang gembur saat kencing, dan beliau lebih banyak kencing dengan duduk (jongkok). Sampai-sampai Aisyah berkata, “Siapa yang menyampaikan hadits kepada kalian bahwa beliau kencing dengan berdiri, maka janganlah kalian mempercayainya. Beliau tidak pernah kencing kecuali dengan berjongkok.” (Ditakhrij At-Tirmidzy, An-Nasa’y dan Ibnu Majah dengan isnad shahih).

Tapi Muslim meriwayatkan di dalam Shahih-nya, dari hadits Hudzaifah, bahwa beliau pernah kencing dengan berdiri. Ada yang berpendapat, kencing dengan cara berdiri ini dimaksudkan sebagai pembolehan. Ada yang berpendapat, beliau melakukannya karena khawatir tali kekang hewannya lepas. Ada yang berpendapat, hal itu dilakukan karena untuk proses penyembuhan sakit. Orang Arab biasa menyembuhkan kesulitan kencing dengan cara berdiri. Begitulah kata Asy-Syafi’y. Yang benar, beliau melakukannya karena untuk menghindari cipratan air kencing yang kemungkinan akan mengenai diri beliau, sekiranya beliau melakukannya dengan cara berjongkok. Maka satu-satunya cara untuk menghindarinya ialah kencing dengan berdiri.

Beliau pernah keluar dari kamar kecil, seraya membaca Al-Qur’an. Beliau membersihkan kotoran, dengan air maupun batu dengan tangan kirinya. Beliau cukup membersihkannya tiga kali dan tidak pernah merasa was-was.

Sumber: Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Penerjemah: Kathur Suhardi. 2000. Mukhtashar Zadul-Ma’ad (Edisi Indonesia: Zaadul-Ma’ad Bekal Perjalanan Ke Akhirat). Jakarta: Pustaka Azzam. Halaman 12-13.

Tuntunan Rasulullah Saat Berjalan

Beliau adalah orang yang paling cepat jalannya, paling bagus jalannya dan juga tenang. Abu Hurairah berkata, “Aku tidak melihat sesuatu pun yang lebih bagus daripada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Seakan-akan matahari berjalan di muka beliau. Aku juga tidak melihat seseorang yang lebih cepat jalannya daripada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Seakan-akan bumi dijadikan menurun bagi beliau. Sebenarnya kami berusaha untuk menyeimbangi beliau, tapi beliau seperti tidak peduli.”

Ali bin Abu Thaiib juga pernah mensifati cara berjalan beliau dengan berkata, “Jika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berjalan, maka badannya bergerak seakan-akan sedang berjalan di tanah yang landai.”

Begitulah cara berjalannya para pemberani dan mereka yang memiliki semangat, tidak seperti orang yang sakit-sakitan, yang berjalan sepotong demi sepotong. Dua cara berjalan yang tercela, yaitu pelan-pelan seperti orang yang sakit-sakitan dan berjalan secara buru-buru seperti onta yang ketakutan, seakan menggambarkan keadaan pikirannya yang galau, apalagi jika dengan banyak menengok ke arah kiri dan kanan. Yang benar ialah berjalan dengan kerendahan hati, yang menjadi sifat jalannya Ibadurrahman, seperti yang difirmankan Allah,

Dan, hamba-hamba Rabb Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang- orang yang berjalan di muka bumi dengan rendah hati.” (Al-Furqan: 63).

Orang-orang salaf berkata tentang makna ayat ini, ”Artinya mereka berjalan dengan penuh ketenangan dan kewibawaan, tidak congkak dan tidak seperti sakit-sakitan.”

Sumber: Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Penerjemah: Kathur Suhardi. 2000. Mukhtashar Zadul-Ma’ad (Edisi Indonesia: Zaadul-Ma’ad Bekal Perjalanan Ke Akhirat). Jakarta: Pustaka Azzam. Halaman 11-12.

Tuntunan Rasulullah dalam Bermu’amalah

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah orang yang paling bagus dalam bermu’amalah. Jika meminjam sesuatu dari orang Iain, maka beliau mengembalikan yang lebih bagus dari apa yang dipinjamnya, dan beliau pasti mengembalikannya sambil mendoakan orang yang memberikan pinjaman kepada beliau,

pinjaman

Semoga Allah memberkahi bagimu dalam keluargamu dan hartamu. Sesungguhnya pahala pinjaman ialah pujian dan pemenuhan.” (Diriwayatkan An-Nasa’y, Ibnu Majah dan Ahmad).

Beliau pernah meminjam (berhutang) empat puluh sha’ bahan makanan dari seseorang. Pada saat yang sama ada seorang Anshar yang membutuhkannya, maka beliau memberikan bahan makanan itu kepada orang Anshar. Beliau bersabda, ”Setelah ini dia tidak akan datang kepada kami untuk meminta sesuatu pun.” Orang yang dipinjami itu siap-siap akan mengatakan sesuatu. Tapi beliau cepat-cepat berkata, “Janganlah kamu berkata kecuali yang baik. Aku adalah sebaik-baik orang yang meminjam.” Maka beliau mengembalikan bahan makanan itu dua kali lipat atau delapan puluh sha”.

Beliau juga pernah meminjam seekor onta. Lalu pemiliknya mendatangi beliau untuk menagih, sambil mengeluarkan perkataan yang keras. Para shahabat yang mendengarnya siap-siap untuk bertindak terhadap orang itu. Namun beliau bersabda, “Biarkan dia, karena orang yang mempunyai hak berhak untuk berkata.”

Suatu kali beliau hendak membeli sesuatu. Tapi ternyata uang beliau tidak mencukupi. Maka harganya diturunkan. Lalu barang itu beliau jual lagi sehingga mendatangkan untung, yang banyak. Lalu keuntungan itu beliau shadaqahkan kepada para janda dari Bani Abdul-Muththalib, lalu beliau bersabda, ”Aku tidak akan membeli sesuatu pun setelah ini kecuali jika aku mempunyai uang yang cukup.”

Ada seorang Yahudi yang menjual barang kepada beliau dengan jangka waktu tertentu yang sudah disepakati bersama. Tapi sebelum jatuh tempo, orang Yahudi itu mendatangi beliau untuk menagih pembayaran. Beliau memberitahu, “Sekarang belum jatuh tempo.”

Orang Yahudi itu berkata dengan keras, “Kalian orang-orang Bani Abdul-Muththalib memang suka mengulur-ngulur waktu.”

Para shahabat yang mendengarnya hendak berbuat sesuatu kepada orang Yahudi itu. Tapi beliau melarang mereka. Kekerasan orang Yahudi itu justru membuat beliau bertambah lemah lembut. Maka orang Yahudi itu berkata, “Segala sesuatu dari tanda-tanda kenabian yang ada pada diri beliau sudah kuketahui, dan tinggal satu saja yang belum kekutahui, yaitu kekerasan orang yang tidak tahu tentang diri beliau justru membuat beliau bertambah lemah lembut. Karena itu aku ingin mengetahuinya.” Kemudian orang Yahudi itu masuk Islam.

Sumber: Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Penerjemah: Kathur Suhardi. 2000. Mukhtashar Zadul-Ma’ad (Edisi Indonesia: Zaadul-Ma’ad Bekal Perjalanan Ke Akhirat). Jakarta: Pustaka Azzam. Halaman 10-11.

Tuntunan Rasulullah ketika Beranjak Tidur dan Bangun

Terkadang beliau tidur di atas kasur, terkadang di atas kulit yang sudah disamak, terkadang di atas tikar, terkadang di atas tanah, terkadang di atas dipan dan terkadang di atas kain hitam. Ubbad bin Tamim meriwayatkan dari pamannya, dia berkata, ”Aku pernah melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berbaring di masjid dengan meletakkan salah satu kaki di atas kaki yang lain.” (Ditakhrij Al-Bukhary dan Muslim).

Ketika beranjak ke tempat tidurnya, maka beliau mengucapkan doa,

tidur

Dengan nama-Mu ya Allah, aku hidup dan aku mati.” (Ditakhrij Al- Bukhary, Muslim dan At-Tirmidzy).

Beliau menjajarkan kedua telapak tangan lalu meniupnya seraya mengucapkan surat Al-lkhlas, Al-Falaq dan An-Nas. Setelah itu beliau mengusapkan telapak tangan ke seluruh tubuh yang memang bisa diusapnya. dimulai dari bagian kepala, lalu ke wajah lalu kebagian tubuh. Beliau melakukan hal ini tiga kali. Beliau tidur pada lambung kanan (dalam posisi miring ke kanan), meletakkan tangan kanan di bawah pipi kanan. Jika bangun tidur beliau mengucapkan,

bangun

Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah Dia mematikan kami dan kepada-Nya tempat kembali.” (Diriwayatkan Al-Bukhary, Muslim dan At-Tirmidzy).

Setelah itu beliau bersiwak. Terkadang beliau membaca sepuluh ayat dari akhir surat Ali Imran.

Beliau biasa tidur pada awal malam dan bangun pada akhir malam. Tapi terkadang juga tidak tidur pada awal malam karena melayani kemaslahatan orang-orang Muslim. Mata beliau tidur tapi hati beliau tidak tidur. Jika beliau tidur, tak seorang pun membangunkan beliau, sehingga beliau sendiri yang bangun.

Sumber: Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Penerjemah: Kathur Suhardi. 2000. Mukhtashar Zadul-Ma’ad (Edisi Indonesia: Zaadul-Ma’ad Bekal Perjalanan Ke Akhirat). Jakarta: Pustaka Azzam. Halaman 9-10.

Tuntunan Rasulullah dalam Pernikahan dan Pergaulan di Tengah Keluarga

Diriwayatkan secara shahih dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, dari hadits Anas, bahwa beliau bersabda,

wanita-minyak-wangi

“Yang dijadikan paling kucintai dari keduniaan kalian adalah wanita dan minyak wangi. Dan kesenangan hatiku dijadikan ada dalam shalat.” (Diriwayatkan An-Nasa’y, Ahmad dan Al-Hakim).

Beliau diberi kekuatan tiga puluh kali dalam jima’. Sehingga beliau pernah menggilir beberapa istri dalam satu malam. Allah memperbolehkan yang demikian ini bagi beliau, yang tidak diperbolehkan bagi yang lain dari umatnya. Tapi beliau tetap mengadakan pembagian di antara mereka dalam tempat tinggal dan nafkah.

Kehidupan beliau bersama para istri merupakan pergaulan yang amat baik, penuh dengan sajian akhlak yang mulia. Beliau pernah mengirim beberapa anak perempuan dari kalangan Anshar kepada Aisyah agar mereka bermain bersama. Jika Aisyah minum dari suatu gelas, maka beliau mengambil gelas itu dan ikut meminumnya pada bagian gelas yang diminum Aisyah. Beliau telentang dengan posisi kepala di pangkuan Aisyah sambil membaca Al-Quran. Padahal boleh jadi Aisyah sedang haid. Beliau menyuruh Aisyah untuk mengenakan kain karena dia sedang haid, lalu beliau mencumbunya. Beliau juga pernah memeluk Aisyah ketika beliau sedang berpuasa. Beliau pernah mengajak Aisyah adu lari, menonton berdua orang-orang Habasyah yang sedang bermain di dekat masjid, sementara Aisyah bersandar di bahu beliau. Ini semua menunjukkan kelembutan dan kehalusan beliau dalam mempergauli istri. Jika hendak mengadakan perjalanan, maka beliau mengundi di antara istri-istrinya. Siapa yang undiannya keluar, maka dialah yang berhak menyertai perjalanan beliau. Karena itu beliau bersabda.

baik_keluarga

Sebaik-baik orang di antara kalian ialah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik di antara kalian terhadap keluargaku.” (Diriwayatkan At-Tirmidzy dan Ibnu Hibban).

Seusai mengerjakan shalat ashar beliau berkeliling di antara istri-istrinya, untuk mengetahui keadaan mereka semua. Jika tiba malam hari, beliau berada di rumah salah seorang istri yang mendapat giliran. Aisyah berkata, “Beliau tidak melebihkan sebagian di antara kami atas sebagian yang lain dalam masalah membagi giliran bermalam. Hampir tak sehari pun melainkan beliau berkeliling di antara kami semua, mendekati setiap istri yang dikunjungi tanpa berjima’ dengannya hingga tiba di rumah istri terakhir yang menjadi giliran bermalam.”

Sumber: Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Penerjemah: Kathur Suhardi. 2000. Mukhtashar Zadul-Ma’ad (Edisi Indonesia: Zaadul-Ma’ad Bekal Perjalanan Ke Akhirat). Jakarta: Pustaka Azzam. Halaman 8-9.